may i say…
Wednesday, September 27th, 2006"I miss U"
U wanted me to write about u. There were so many words to say but i preferred to make it simple. Three words. And that’s enough.
"I miss U"
U wanted me to write about u. There were so many words to say but i preferred to make it simple. Three words. And that’s enough.
Ternyata satu event berjudul prajab mempunyai dampak yang cukup signifikan dalam merepotkan bukan cuma person yang bersangkutan tapi juga orang2 yang berada di (bahkan yang sudah tidak berada di)sekitarnya.
Masalah foto berbaju nasional dengan latar merah seperti yang disyaratkan misalnya. Begitu tau ada persyaratan foto semacam itu aku langsung inget kalo kira2 setaon yang lalu, tepatnya pas pusing2 ngurus mo ujian komprehensi, perna ada syarat serupa dan karena aku uda melaluinya dengan (alhamdulillah) lancar, maka berarti aku uda punya foto sesuai persyaratan. Maka berdasarkan pertimbangan ekonomis, dan terutama karena aku sangat puas dengan hasil foto tersebut (rasanya aku ga perna terlihat secantik itu di foto sebelumnya -bukannya narsis, tapi ini murni jujur dari lubuk hati yang terdalam-. beberapa temen pun dengan sadisnya mengatakan kalo yang ada di foto itu PASTI bukan aku, melainkan ibuku -secara, semua orang tau my beloved mother lebi cantik dari aku sekaligus jadi orang tercantik di rumah. Love you mom..-), maka ada rasa ketidakrelaan tiada terkira kalo aku harus bikin foto berbusana nasional berlatar merah lagi karena eh karena belum tentu foto yang akan datang hasilnya lebi bagus dari ini (untuk lebi jelas tentang foto yang dimaksud, liat upload-an foto terbaru. Sengaja foto berwarna berlatar merah tidak ditampilkan karena dua foto yang lain tampak lebi bagus hehehe..).
Berdasarkan memoriku yang sangat aku percaya, cd yang berisi file foto2 antik nan tak biasa tersebut sudah takterdeteksi lagi (yang membuatku mempertanyakan kembali, sebenernya memoriku bisa dipercaya gak si?). Sementara file yang tersimpan di komputer jaman bikin skripsi jelas tidak bisa diharapkan lagi, secara itu komputer uda dijual dan my beloved brother -yang terlibat langsung dengan proses penjualan tersebut- lupa menyertakannya dalam kumpulan file2 yang harus diselamatkan. So, forget about soft copy.
Kemudian aku teringat kalo jaman dahulu kala itu pas mo ngumpulin foto aku terpaksa harus nge-repro itu foto2 untuk mendapatkan negatif film yang biasa disebut klise, agar bisa diafdruk di tukang afdruk pinggir jalan yang menggunakan kertas cetak kasar (kalo nggak salah namanya "dop" ato sejenisnya), karena hanya foto dengan kertas cetakan tipe begituanlah yang mau diterima oleh pegawai bagian pengajaran yang ngurus soal foto2 persyaratan ijazah. Cukup merepotkan memang, tapi aku jalanin juga coz mereka bilang tipe kertas seperti itulah yang bisa menahan tinta stempel di ijazah untuk waktu yang lebi lama (yang sebenernya kesahihannya masi sangat diragukan, tapi daripada foto yang aku serahin ga diterima, tus aku ga bisa ikut ujian komprehensi, mending diikutin aja. Itung2 bagi2 rizki ama tukang afdruk foto pinggir jalan). Negatif foto itu, seingetku, ada di rumah, bersama dengan negatif2 pas foto lainnya. So, aku minta tolong ke orang rumah untuk mencarikannya. Mulai my beloved mom sampe my beloved brother turun tangan tapi yang aku dapatkan adalah sms yang menyatakan bahwa mereka menyerah dalam proses pencarian harta karun tersebut. Akupun kemudian bertekad untuk mencarinya sendiri sesampainya aku di rumah, yang berarti h-2 sebelum batas akhir penyerahan foto keramat tersebut, dengan konsekuensi kalo akupun tidak menemukannya maka hari itu juga aku harus dandan ala busana nasional lagi -yang mana seperti telah disebutkan di atas, aku tidak berani terlalu berharap hasilnya akan sebagus dandanan di foto terdahulu- sekaligus foto lagi di studio dan itupun harus kilat karena uda gak ada waktu longgar lagi. Ck..ck..ck… too risky…
Untunglah kemudian aku inget kalo waktu itu ada beberapa orang yang sempet minta foto itu dalam ukuran 3R. Entah gara2 promosiku yang sangat gencar tentang betapa bagus hasil foto itu (bahasa gampangnya, pamer kalo -akhirnya- aku keliatan cantik di foto. Harap maklum, momen seperti ini terhitung cukup langka terjadi dalam kehidupanku hiks), ato mereka cuma pengen aku diem dan berhenti mengulang2 hal yang sama sambil mengibas2kan foto2 itu di depan hidung mereka. Merekalah harapanku berikutnya.
Orang pertama di hubungi. Ternyata itu foto sedang terpisah secara geografis dengan bezitter-nya kira2 150km jauhnya (angka inipun jangan terlalu di percaya, karena saya tidak terlalu bagus berhubungan dengan angka2). Orang kedua dihubungi. Rupanya aku cuma ge-er kalo dia pegang itu foto. Baru pada orang ketiga, foto2 tersebut eksis, dan atas kebaikan hatinya meng-scan serta mengirimkan foto2 yang menggegerkan dunia persilatan, akhirnya aku dapat memberi tanda check pada daftar barang2 yang harus dibawa prajab. Sekaligus mengingatkanku untuk memberitahukan pada dunia tentang keberadaannya yang begitu berharga. MERDEKA!!!
FYI: Kalo ada yang penasaran aku dandan sekaligus foto di mana, jawabannya adalah di studio ELSE, belakang ABM alias STIE mangkucecwara, malang. Bukan iklan, sekedar terima kasih sekaligus penghargaan karena telah berhasil membuat tampang preman jadi terlihat seperti putri keraton. Walah..lagi2 aku ge-er.