Archive for December, 2006

Mine*

Monday, December 25th, 2006

I wait in the darkness.
Frozen winds surround my face.
In the cover of darkness I can make believe it’s you.
I feel you like the rain,
I feel you like a storm cloud building in my heart.
I wonder if you know the pain, to want the one thing you haven’t got.

Just a twist in time …and you could be mine
Just a sip of wine …and you could be mine
Just a kiss divine

A hand brushes by my love.
A smile fuels a steel inferno
You don’t have to die to leave my world.
Stand still and you’ve departed.
It seems I’m not on your mind and I’m wasting my time.
I’m just a fool to believe.
In the death of the night can you feel me inside?
I wish that you could conceive..

Just a twist in time …and you could be mine
Just a sip of wine …and you could be mine
Just a kiss devine …and you could be mine

Won’t you leave me in the darkness.
Take away the pride, all the dignity that’s burning inside.
Can’t you see I’m standing naked.
I’ll bear all the crosses and the crucifixes you can provide.
If you could decide.

Just a twist in time …and you could be mine
Just a sip of wine …and you could be mine
Just a kiss divine …and you could be mine

*) lagu lamanya Savage Garden yang akhir2 ini sering diputar di winamp-ku.

Jadi kangen my mom…

Thursday, December 21st, 2006

Duapuluh Dua Desember Duaribu Enam…

It’s Mother’s Day

Pagi ini di kantor diadakan upacara dengan semua petugas perempuan untuk memperingatinya. Tidak semua sih..Inspektur upacaranya tetep aja laki-laki. Apa ini berarti masih saja ada posisi yang ditabukan untuk dipegang perempuan? Entahlah…Itu hanya pemikiran yang terlintas di benakku ketika melihatnya.

Peringatan hari ibu ini justru mengingatkanku pada salah satu film yang aku liat di Jiffest kemaren. Sebuah film dari UK dan USA karya seorang Anthony Minghella berjudul Breaking and Entering.

Film ini mengisahkan tentang seorang arsitek bernama Will (Jude Law) yang kantornya beberapa kali menjadi incaran perampok, di antaranya kelompok Miro. Hingga suatu saat, Will yang memang sengaja menunggu di depan kantornya, menangkap basah Miro yang sedang beraksi hendak merampok lagi. Will pun mengejar Miro, hingga menemukan tempat tinggalnya. Rasa penasaran tentang perampok muda yang membobol kantornya tersebut membuat Will datang di lain hari, dan bertemu dengan Amira (Juliette Binoche), ibu Miro, yang seorang pengungsi Bosnia. Pertemuan itupun berkembang menjadi sebuah hubungan yang lebih dekat lagi. Ketika Amira mengetahui maksud awal Will masuk ke kehidupannya, Amirapun berusaha melakukan segala cara untuk melindungi putranya dari tangkapan polisi.

Perjuangan Amira inilah yang begitu menyentuh. Naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya, membuatnya melakukan apa yang sebenarnya tidak diinginkannya (terlihat dari sorot mata yang memancarkan ketidaknyamanan), mengiba, memohon, hanya agar anaknya jangan sampai ditangkap polisi. Dan memang hanya itulah tujuannya. Tidak lebih. Ketika anaknya sudah dalam posisi aman, diapun tidak meminta apa-apa lagi. Sekalipun hal itu menghancurkan hatinya.

Untuk semua ibu di dunia… Terima kasih telah mewarnai dunia dengan ketulusan cinta kasih yang tiada berbatas. Kalianlah pahlawan yang sebenarnya…

Love u mom…

Kesalahpahaman yang Tidak Diinginkan

Tuesday, December 19th, 2006

Lagi2 terjadi.

Menyebalkan.

Sekaligus merepotkan.

Tidak bisakah segala sesuatu dihadapi begitu saja.

Apa adanya.

Harfiah.

Tanpa interpretasi-interpretasi yang tidak perlu.

Apa aku yang bodoh karena tidak belajar dari pengalaman?

Atau memang ini hanya masalah perbedaan sudut pandang?

Kalo emang bisa jadi sederhana kenapa harus diperumit sih?

Surprise on Jiffest

Tuesday, December 12th, 2006

Guess who was sitting behind me on jiffest last night?

RIRI RIZA!!!!

Somehow hal itu membuatku jadi lebi excited (1) daripada waktu liat seleb2 laen macem Anjasmara, Dian Nitami, Indra Brugman, Jupiter, Surya Saputra or seleb2 berpenampilan indah lain. Yang satu ini tampilannya emang gak indah (2) tapi beliaunya itu DIRECTOR film2 Indonesia keren yang…. wah… speechless deh… Untung aja waktu itu lagi ga bawa kamera, dan untungnya hape yang aku pake bukan prototype yang dilengkapi dengan kamera, karena kalo aja ada kamera dalam aksesku saat itu aku pasti akan dengan sangat noraknya menghampiri the Director dan minta foto bareng yang akan membuat beberapa temen kantor yang  kebetulan juga lagi nonton bareng ama aku melengos dan pura2 gak kenal hahahahaha!!!!

I just thought that…that was a perfect combination for a movielover like me. Bayangpun sodara2!!

AKU nonton JIFFEST di EX filmnya WOODY ALLEN yang dibintangi ama JONATHAN RHYS MEYERS (3) dengan RIRI RIZA duduk di barisan belakangku.

Sampe perjalanan pulangpun aku masi ga tahan buat senyum2 & ketawa2 sendiri. Komplikasi dampak mantengin JRM pujaanku n Riri Riza di belakangku membuatku tidak mempedulikan tatapan aneh dari orang2 di sekitarku. Terserah apa yang mereka pikir. Kemungkinan terburuk paling juga dikira gila or agak kurang satu strip, dan aku sama sekali tidak keberatan coz emang uda dasarnya dari sana kayak gitu huehehehe….

Padhal pas sebelum musim jiffest mulai aku uda angen2 pengen ketemu Garin Nugroho or Adhitya Mulya. Kalo ketemu Riri Riza aja kayak gini, gimana kalo ketemu dua orang yang bener2 aku inginkan ya?

Note:

(1) dan aku sendiri merasa norak karenanya

(2) maaf, mas riri, tapi rambut kruwel awut2an mas memang tidak bisa disebut indah

(3) saya memaklumi jika anda belum mengenal namanya, tapi kalo saya disuru mili antara JRM dan Brad Pitt, maka saya akan lebi memili JRM. Selain karena Brad Pitt uda ditongkrongin mbak Angelina Jolie yang jelas ga selevel ama saya, juga karena… JRM sudah membuatku jatuh cinta sejak melihatnya di Tangled. Muka misterius perpaduan kerapuhan dan naluri pembunuh (Waduh!! kok mala jadi serem ya?) yang jadi daya tariknya. Walah…terlalu panjang kalo aku menceritakan kesengsemnya aku ama mas satu ini. Lebi baik dibahas di episode lain, ato tidak usa dibahas sama sekali.